Showing posts with label PPSMI. Show all posts
Showing posts with label PPSMI. Show all posts

Wednesday, July 1, 2009

Memaknai PRU-12

Memaknai PRU-12


Perubahan pada tahap nasional yang semakin jelas riak dan gejolaknya ialah Tarikh 8 Mac 2008 (PRU ke-12) peristiwa penting yang cukup momentous, tidak hanya dalam konteks politik kepartian, tetapi juga dalam konteks perkembangan pola fikir umat dan rakyat. Ia sebagai jelmaan wisdom of the crowd yang berintikan aspirasi perubahan, politik idealisme, kemampuan berfikir dan keberanian bersikap. Ia dapat membangkitkan ghairah dan optimisme baru dakwah pencerdasan dan pencerahan.


Bagi kaum da`i, pemaknaannya harus dengan catatan bahawa misi dakwah tidak terbatas pada perubahan politik dalam erti sekadar pertukaran parti pemerintah. Yang kita perjuangkan adalah misi islahi, perubahan substantif-kualitatif, perubahan yang menepati idealisme pemerintahan yang adil dan beradab, sesuai dengan prinsip dan nilai syari`at.


Kita cuba memahami dan menangani perubahan yang sedang terjadi, dan seterusnya menggagas senario perubahan yang kita inginkan. pemikiran umat telah mulai terkondisi untuk menerima perubahan; malah mereka telah berani menuntut perubahan, termasuk pelayanan yang selayaknya sebagai rakyat yang bermaruah dan berharga diri.


Mereka menolak politik wang dan politik pembodohan. Mereka malu berada di tengah keleluasaan budaya rasuah dan amalan kroni, mereka malu berada di tengah ketempangan sistem kehakiman dan kepolisan, dan mereka malu berada di bawah pimpinan orang lemah. Mereka juga marah terus-menerus diperbodoh.


Krisis Harapan dan Krisis Kepercayaan


Tamatnya era Mahathir dan bermulanya pentadbiran Badawi telah tumbuh segunung harapan perubahan. Era Badawi hanya berisi declaration of intentions, pengumuman demi pengumuman tanpa perubahan yang bererti. Badawi mengakhiri kerjaya politiknya dengan mewariskan krisis harapan dan krisis kepercayaan yang serius. Penggantinyalah yang harus memikul beban warisan di samping beban peribadi yang tidak kurang beratnya .


Krisis yang membelit memang cukup gawat kerana liputannya telah meratai hampir segenap sektor. Institusi kehakiman yang tercemar dengan skandal video Lingam belum dapat memulihkan kredibilitinya. Mereka yang terlibat, termasuk dalang utamanya tetap berleluasa memencak-mencak, mendabik-dabik dada, bercakap besar di sana sini.


Tanpa tumpuan yang secukupnya, ekonomi negara yang memang sedia bermasalah akan menjadi semakin parah. Hingga ke saat ini tidak banyak yang dilakukan untuk memperbaiki kadar petumbuhan ekonomi yang jauh di belakang negara-negara jiran, “Malaysia is in trouble. It shouldn’t be. … And in many respects Malaysia has done well. But it could have done so much better. Instead of being successful, too often Malaysia has tried to buy the ornaments of success -- the world’s tallest building, an unnecessarily large international airport, and so on. But in 2025, the one commodity that has paid for much of this -- oil -- is due to run out.


Tidak kurang celarunya adalah bidang pendidikan yang tanpa henti menjadi sasaran kritik dan protes rakyat. Nama kementerian dirubah dari pendidikan kepada pelajaran tanpa justifikasi yang rasional, Falsafah Pendidikan Negara yang kemudian menjadi Falsafah Pendidikan Kebangsaan semakin tidak dipedulikan, protes terhadap PPSMI terus berlarut-larut tanpa pelayanan yang positif, malah digawatkan lagi dengan protes baru terhadap isu wajib lulus bahasa Inggeris dan pembatasan 10 subjek.


Apa yang sedang terjadi adalah krisis kependidikan yang telah menggugat esensi pendidikan sebagai humanizing process atau proses pembinaan dan pengutuhan insan.


Akibat politisasi dan komersialisasi yang berlebihan pendidikan lebih terorientasi ke arah memenuhi keperluan politik dan permintaan pasaran sehingga mengabaikan asas keinsanan. Krisis kependidikan tentunya membawa implikasi besar dalam pelbagai bidang lain, termasuk bidang sosial .Terlalu banyak masalah sosial yang sedang menggejala, terutama yang melibatkan generasi muda .


-----------------------------------------------------------
Bahagian Ketiga sedutan intisari daripada Amanat Pimpinan WADAH
Dato’ Dr Siddiq Fadil
Muktamar Nasional Ketiga Wadah Pencerdasan Umat Malaysia (WADAH)



Tuesday, June 9, 2009

Our DPM: Missing the Forest for the Trees







Our DPM: Missing the Forest for the Trees


As if the pressing issue of PPSMI, the mind boggling Tun M’s learning English by trying to decipher its scientific and mathematical terminology is not enough. Our DPM must be living in another far out world of make believe to come out with another preposterous idea.


Now, he wants to introduce compulsory English at SPM level. Is he trying to divert attention from the inability to be decisive concerning the unresolved PPSMI issue? First, he caps the number of SPM subjects which is no big deal because those who take these many subjects are usually more than able to cope and consider them as challenges. In fact, taking more SPM subjects as a contest or endeavour is certainly more worthwhile than swimming or walking in freezing waters or icy poles like some amusing people who return to tell frosty tales.


Our DPM and Education Minister has certainly missed the point. It is not only English that is lacking in our student standards but they are failing as a whole in all subjects. Students somehow lose touch with education much early on even at lower primary. They seem not to possess self esteem and are unable to motivate themselves. Their families and friends do not inspire them. The ministry is too eager and over excited when it comes to A’s. But how many students drop out? Why are so many students losing out and left to degenerate to join a host of unqualified and uneducated school leavers?


Surely he is aware of the numbers who are screened and kept in the last or bottom classes so that teaching can be concentrated on those who want to learn. Teaching in a public school sometimes is a course or a bout in survival. Students have become so undisciplined as to be so atrocious.

One anecdote has it that a biology teacher asked her class on anatomy to label body parts in English on a diagram of a human body. Most students were found to have stuck the label “brain” on the body’s stomach. She sarcastically commented that that was where their brains were located!


It is not English that the DPM should be worried about. It is the standard of education that seems to fail whether at the parenting level, the schools and the community, the government itself seems to be in a sad state of paralysis instead of moving forward. It is trapped in some nostalgic trip of English as the solution for all its education woes. For the drop outs which are increasing in numbers, English is a gas and is just another brick in the wall.


Its education, dear sir, not English!
Unfortunately, the DPM is missing the forest for the trees.