Showing posts with label WADAH. Show all posts
Showing posts with label WADAH. Show all posts

Thursday, April 15, 2010

Upholding the Shariah



It is indeed a time of fitnah. When the qadi threw out Anwar Ibrahim's attempt to compel the shariah prosecutor to proceed with the qazaf case, the qadi was right technically because he cannot direct a prosecutor. He termed it according to reports as abuse of the court process and mentioned something like it was a "maksiat" - an evildoing. A friend, a businessman from Ipoh was on the phone and he said he was surprised at the use of the term maksiat. He found it a bit confounding that technicalities could become equated with such evil.


Technicalities cannot however address the fundamental issue of maqasid as shariah which is whether justice has been served. Justice to Anwar and justice for the whole Muslim community because technicalities cannot address fasad brought about by systematically allowing fitnah and qazaf to continue unfettered over and over again. In fitnah 1, the case was not directly brought to the shariah courts. Instead it was argued in the civil high court which Anwar's legal team argued for the case to be transferred to the shariah jurisdiction which then was rejected as much expected. In fitnah 2, it was brought directly to the shariah court but seemingly to no avail.


Isn't the purpose of shariah is to uphold the religion and govern the world?


That is why the ABIM-WADAH-PKPIM latest joint statement is vital and timely. The statement is not a mere press statement but offers advice and counsel to Muslim leadership and the ummah as a whole of Islam' s principles of justice and dire consequences if injustice prevails and oppression is ignored. It reminds us of the evil and dangers of qazaf, falsely accusing good people of heinous crime. It enjoins all Muslims to reject the accusations and the fitnah against Anwar Ibrahim. If not, the accused must be allowed to challenge it according to the shariah. A shariah offence of such nature must be judged according to the uncompromising requirements of the injunctions such as the number of witnesses to the crime as it is enshrined permanently in Islamic scriptures.


The statement reminds us of the noble objectives of the shariah that is to serve justice, to protect one's rights and honour. The honour of the individual and the good and the wellbeing of the community, to be free from mischief and miscreants.


Respected Islamic scholars have spoken and the Islamic movement has voiced it out in such a clear, concise and convincing manner. Hear us, Ya Allah, we have discharged our trust!


Wednesday, July 1, 2009

Memaknai PRU-12

Memaknai PRU-12


Perubahan pada tahap nasional yang semakin jelas riak dan gejolaknya ialah Tarikh 8 Mac 2008 (PRU ke-12) peristiwa penting yang cukup momentous, tidak hanya dalam konteks politik kepartian, tetapi juga dalam konteks perkembangan pola fikir umat dan rakyat. Ia sebagai jelmaan wisdom of the crowd yang berintikan aspirasi perubahan, politik idealisme, kemampuan berfikir dan keberanian bersikap. Ia dapat membangkitkan ghairah dan optimisme baru dakwah pencerdasan dan pencerahan.


Bagi kaum da`i, pemaknaannya harus dengan catatan bahawa misi dakwah tidak terbatas pada perubahan politik dalam erti sekadar pertukaran parti pemerintah. Yang kita perjuangkan adalah misi islahi, perubahan substantif-kualitatif, perubahan yang menepati idealisme pemerintahan yang adil dan beradab, sesuai dengan prinsip dan nilai syari`at.


Kita cuba memahami dan menangani perubahan yang sedang terjadi, dan seterusnya menggagas senario perubahan yang kita inginkan. pemikiran umat telah mulai terkondisi untuk menerima perubahan; malah mereka telah berani menuntut perubahan, termasuk pelayanan yang selayaknya sebagai rakyat yang bermaruah dan berharga diri.


Mereka menolak politik wang dan politik pembodohan. Mereka malu berada di tengah keleluasaan budaya rasuah dan amalan kroni, mereka malu berada di tengah ketempangan sistem kehakiman dan kepolisan, dan mereka malu berada di bawah pimpinan orang lemah. Mereka juga marah terus-menerus diperbodoh.


Krisis Harapan dan Krisis Kepercayaan


Tamatnya era Mahathir dan bermulanya pentadbiran Badawi telah tumbuh segunung harapan perubahan. Era Badawi hanya berisi declaration of intentions, pengumuman demi pengumuman tanpa perubahan yang bererti. Badawi mengakhiri kerjaya politiknya dengan mewariskan krisis harapan dan krisis kepercayaan yang serius. Penggantinyalah yang harus memikul beban warisan di samping beban peribadi yang tidak kurang beratnya .


Krisis yang membelit memang cukup gawat kerana liputannya telah meratai hampir segenap sektor. Institusi kehakiman yang tercemar dengan skandal video Lingam belum dapat memulihkan kredibilitinya. Mereka yang terlibat, termasuk dalang utamanya tetap berleluasa memencak-mencak, mendabik-dabik dada, bercakap besar di sana sini.


Tanpa tumpuan yang secukupnya, ekonomi negara yang memang sedia bermasalah akan menjadi semakin parah. Hingga ke saat ini tidak banyak yang dilakukan untuk memperbaiki kadar petumbuhan ekonomi yang jauh di belakang negara-negara jiran, Malaysia is in trouble. It shouldn’t be. … And in many respects Malaysia has done well. But it could have done so much better. Instead of being successful, too often Malaysia has tried to buy the ornaments of success -- the world’s tallest building, an unnecessarily large international airport, and so on. But in 2025, the one commodity that has paid for much of this -- oil -- is due to run out.


Tidak kurang celarunya adalah bidang pendidikan yang tanpa henti menjadi sasaran kritik dan protes rakyat. Nama kementerian dirubah dari pendidikan kepada pelajaran tanpa justifikasi yang rasional, Falsafah Pendidikan Negara yang kemudian menjadi Falsafah Pendidikan Kebangsaan semakin tidak dipedulikan, protes terhadap PPSMI terus berlarut-larut tanpa pelayanan yang positif, malah digawatkan lagi dengan protes baru terhadap isu wajib lulus bahasa Inggeris dan pembatasan 10 subjek.


Apa yang sedang terjadi adalah krisis kependidikan yang telah menggugat esensi pendidikan sebagai humanizing process atau proses pembinaan dan pengutuhan insan.


Akibat politisasi dan komersialisasi yang berlebihan pendidikan lebih terorientasi ke arah memenuhi keperluan politik dan permintaan pasaran sehingga mengabaikan asas keinsanan. Krisis kependidikan tentunya membawa implikasi besar dalam pelbagai bidang lain, termasuk bidang sosial .Terlalu banyak masalah sosial yang sedang menggejala, terutama yang melibatkan generasi muda .


-----------------------------------------------------------
Bahagian Ketiga sedutan intisari daripada Amanat Pimpinan WADAH
Dato’ Dr Siddiq Fadil
Muktamar Nasional Ketiga Wadah Pencerdasan Umat Malaysia (WADAH)



Tuesday, June 30, 2009

Amerika dan Perubahan


Amerika dan Perubahan

Dengan b’il hikmah dan ‘ala basirah kita harus membaca makna perubahan yang sedang meratai dunia, termasuk kemunculan fenomenal Barack Hussein Obama . Apakah pula kesan dan implikasinya nanti jika berjaya berlaku perubahan ke atas Amerika Syarikat terhadap Dunia Islam. Apa yang dapat diharapkan dari pidato Kaherah?


Adalah bijak untuk tidak mengharap terlalu banyak dari Obama agar nanti tidak kecewa berat andainya beliau gagal memenuhi harapan. Tetapi tidak pula ada salahnya bagi umat Islam menyambut pelawaan memulakan dialog baru.


Amerika sedang berusaha mencipta perubahan, tetapi ia juga harus menerima hakikat perubahan bahawa dunia hari ini sudah menjadi multipolar. Kenyataan tersebut tidaklah bermakna kejatuhan Amerika, tetapi kebangkitan negara-negara lain atau the rise of the rest . “The rest” yang dikatakan sedang bangkit itu termasuklah Asia . Kebangkitan yang paling fenomenal adalah China dan India.


Amerika yang ketika ini sedang terbelit pelbagai masalah, terutama masalah ekonomi

tidak akan mudah memaksakan hegemoninya ke atas bangsa-bangsa lain. Negara-negara

“the rest” yang menjadi semakin kuat tidak akan mudah menerima agenda hegemoni

Amerika yang terselubung di balik retorika penyejagatan demokrasi, hak-hak asasi

manusia dan masyarakat madani. The financial crisis has undermined not just the

U.S.’s economy -- but also its authority. Sekarang sudah bukan zamannya Amerika

menggurui dunia. “The era of American global leadership is over.” Gejala hilangnya kepercayaan dunia terhadap idea-idea besar Amerika, kapitalisme dan demokrasi model Amerika.


Dunia memandang sinis terhadap demokrasi jajaan Amerika yang pada hakikatnya hanya topeng untuk menutupi tindakan biadab campur tangan ketenteraan dan penggantian rejim. Citra demokrasi model Amerika semakin tercemar dengan Guantanamo Bay dan penjara Abu-Ghrayb yang mengeri dan menyeramkan.


Pencarian Alternatif


Kita sedang menyaksikan suatu fenomena sejarah yang cukup penting dan genting --

proses reinvention of the world. Kekalutan berlaku dalam mencari alternatif sistem

apakah yang mampu tampil sebagai penyelamat krisis. Antara yang difikirkan ialah authoritarian capitalism sebagaimana yang diamalkan di China dan Singapura. krisis ini juga membuka ruang kepada sosialisme. Tidakkah umat Islam merasa terpanggil untuk menangkap saat strategik ini dengan mengangkat alternatif Islam, sistem ekonomi Islam, sejenis faith based economy yang manusiawi dan bermoral tinggi?


Dalam keadaan terdesak seperti sekarang ini, mungkin orang lebih bersedia mempertimbangkan idea-idea alternatif. ”If there’s anyone out there who has a better idea, I’m sure the world would love to here about it.” Alangkah malangnya jika yang sedang terjadi ini benar-benar suatu kesempatan sejarah yang terlepas.

-----------------------------------------------------------
Bahagian Kedua sedutan intisari daripada Amanat Pimpinan WADAH
Dato’ Dr Siddiq Fadil
Muktamar Nasional Ketiga Wadah Pencerdasan Umat Malaysia (WADAH)



Sunday, June 28, 2009

Dakwah dan Misi Perubahan




Menangani Politik Perubahan dan Perubahan Politik (Bahagian 1)



Dakwah dan Misi Perubahan

Dialah yang telah mengutuskan dalam kalangan orang-orang (Arab) yang Ummiyyin, seorang Rasul (Nabi Muhammad s.a.w) dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (yang membuktikan keesaan Allah dan kekuasaanNya), dan membersihkan mereka (dari iktiqad yang sesat), serta mengajarkan mereka Kitab Allah (Al-Quran) dan Hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum syarak) dan sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan Nabi Muhammad) itu adalah dalam kesesatan yang nyata. (al jumu’ah:2)

Misi nabawi yang kita warisi terungkap dalam 3 Ttilawat (al-ayat), tazkiyat (al-nafs) dan ta’lim (al-kitab wa al-hikmah).

Ungkapan di hujung ayat….dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata – adalah isyarat perubahan radikal iaitu dakwah transformatif.

Perjuangan 3 T menghasilkan transformasi kemanusiaan – perubahan bermakna, pembebasan daripada kesesatan dan pencerahan daripada kebingungan (taghyiriy-tahririy-tanwiriy).

Itulah teras perjuangan para anbiya’ dan mursalin sepanjang zaman.



Agen Perubahan

Kita tampil sebagai agent of change dengan komitmen suatu generasi. Kian perubahan yang diungkapkan dengan kata seperti change, reformasi, transformasi menjadi aspirasi masakini.


Krisis dan Perubahan (Dalam kesempitan selalu ada kesempatan)

Krisis politik-sosial-ekonomi ternyata mengandungi hikmah sebagai katalis perubahan. Krisis ekonomi Mesir membuka jalan kepada kebijaksanaan Nabi Yusuf a.s. Krisis kemanusiaan akibat regim teror Fir’aun memunculkan Nabi Musa a.s. dengan agenda perubahan nasib. Krisis keselamatan akibat teror ya’juj dan ma’juj mencetus model perubahan Dhu’l-Qarnayn.

Dakwah harus tajam daya renung, tepat analisis dan bijak manfaatkan saat strategik sejarah bagi menepati dakwah bi’l hikmah dan dakwah ’ala basirah:-

Katakanlah (wahai Muhammad): “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang menurutku, menyeru manusia umumnya kepada ugama Allah dengan berdasarkan keterangan dan bukti yang jelas nyata. Dan aku menegaskan: Maha suci Allah (dari segala iktiqad dan perbuatan syirik); dan bukanlah aku dari golongan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain.” (Yusuf:108)



Seorang ahli dakwah – da’i, perlu memahami segala maqasid segenap bidang – 'aqa'idnya, hukum-hakamnya dan adab-adabnya. Dakwah ’ala basirah bermakna ia perlu kenali realiti zaman, masyarakat zamannya, medan gelanggangnya dan pendekatan terbaik.

Para da’i perlu faham hakikat agama, realiti zaman dan suazana lingkungan. Perubahan (taghayyur) harus sentiasa diperhati dan diperhitungkan.


-----------------------------------------------------------
Bahagian pertama catatan intisari daripada Amanat Pimpinan WADAH
Dato’ Dr Siddiq Fadil
Muktamar Nasional Ketiga Wadah Pencerdasan Umat Malaysia (WADAH)